Jalan raya - menarik jadi cermin budaya - karena di situ bisa ditonton pertemuan banyak orang dan kelakuannya.
Di situ bisa dilihat bagaimana kendaraan saling serobot , lampu merah dan rambu sering tidak ada maknanya. Mengambil hak orang lain bukan dgn rasa bersalah - jangan2 malah bangga.
Polisi, sang penjaga - malah sembunyi di balik pohon menunggu "mangsa". "Makin banyak yg melanggar makin baik" , lalu apa artinya kata "menjaga" - mungkin harus diganti kata "menjebak".
Jika ada yg celaka, jalanan langsung macet - bukan karena menolong, tapi sekedar nonton ! Padahal menonton itu berkonotasi "menikmati" !
Begitulah pikiran yg terbersit ketika sedang "sangat macet" karena ada tambahan pembangunan "busway". (Sebuah "proyek" yg sukses jika tujuannya adalah mensukseskan hanya busway).
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


1 comment:
Jalan raya sebagai cermin - luar biasa cantik, mengintip pesta, pergumulan dan perjuangan manusia yg unik - ia menjadi hidup krn dihidupi oleh jiwa2 yg berlalu lalang tiap hari. Baik Singapura , Jakarta dan Jakarta - ia mempunyai keindahan uniknya sendiri2. Bagaimana kita dapat "merasakan" keterikatan manusia dgn manusia pada Jogya ataupun semangat "bertahan hidup dgn cara mengatur" pada Singapura sang pulau kecil.
Dari situlah spt tertangkap "kerangka pikir" apa di belakangnya - yg dalam hal ini di sorot soal "premanisme" di Jakarta. Lalu yg menjadi kritikan adalah bukan persoalan hiruk pikuknya jalan itu- tapi bagaimana hingar bingarnya "bau" korupsi, pungli , apatisme dan ketidakpedulian yg tercium di dalamnya.
Secara personal, mana yg aku suka ? Bagaimana dgn Jogya yg bebas pungli ?
Post a Comment